Akankah NOKIA Kembali Bangkit

Akankah NOKIA Kembali Bangkit
Di tengah makin kuatnya duopoli antara iOS Apple Inc. dengan Android Google, Nokia mencoba untuk kembali bertarung dengan mengadopsi Windows Phone dari Microsoft. Keputusan ini sebenarnya sudah dari empatbelas bulan yang lalu, tepatnya di bulan Februari 2011. Saat itu, CEO Nokia Stephen Elop mengatakan, Nokia meninggalkan OS Symbian untuk beralih ke Windows Phone Microsoft. Meski waktu itu, mereka juga tengah mempersiapkan smartphone berbasis Meego (sempat lahir dengan Nokia N9), Nokia tidak peduli. Mereka bulat hati untuk membakar Symbian dan beralih ke Windows Phone.

Kini setelah empat belas bulan kemudian apa yang terjadi? Dalam laporan terbaru yang dirilis Nokia untuk kuartal pertama tahun 2012 ini terlihat sekali, perusahaan ini tengah terombang-ambing di tengah ketidakpastian. Nokia Lumia yang berbasis Windows Phone yang dipercaya akan mampu menyelamatkan nasib Nokia belum terlihat disukai banyak konsumen. Lumia 800 dan 710 yang dirilis pada November 2011 yang lalu di Eropa bahkan tak mencapai target yang seharusnya. Carriers atau operator di Eropa sebagaimana dilaporkan oleh Reuters mengatakan bahwa mereka kurang tertarik dengan apa yang ditawarkan Nokia untuk kembali bersaing di pasar smartphone.

Operator di Eropa memberikan beberapa alasan mengapa mereka kurang tertarik dengan yang tawaran yang diberikan Nokia di dalam seri awal Nokia Lumia (Lumia 800 dan 710). Pertama Overpriced karena produk Lumia 8oo dan 710 tersebut sebenarnya hampir tidak ada inovasi. Kedua taktik marketing jutaan dollar yang kurang tepat di belakang Nokia Lumia 800 dan 710, serta ketiga masalah images yang disebabkan oleh software dan baterai.  Operator di Eropa juga mengatakan bahwa jika saja Nokia Lumia tersebut berbasis Android alangkah baiknya bagi mereka karena akan lebih mudah untuk menjualnya.

Sebenarnya apa yang dikeluhkan oleh operator Eropa tersebut dicoba diatasi oleh Nokia dengan merilis seri terbaru Nokia Lumia di Amerika Serikat, yaitu Lumia 900 dengan harga hanya 99,99 dollar AS bagi pelanggan baru dengan masa kontrak dua tahun. Review terhadap seri ini mixed, ada yang menyanjung tinggi keberanian Nokia menawarkan handset 4G LTE hanya 99,99 dollar. Ada juga yang kurang tertarik karena berbagai alasan seperti kualitas video dan ekosistem Windows Phone yang tidak sebaik Android dan iPhone. Namun, Nokia dapat berbangga, AT&T yang bekerja sama dengan Nokia mengalami sold out. Ini merupakan bukti kecil bahwa Nokia punya secercah harapan untuk bersaing.

Namun belum lagi rasa senang tersebut cukup lama, Nokia dikejutkan dengan adanya bugs, yaitu beberapa handset tidak bisa connect ke internet. Nokia bertindak cepat dan menjanjikan memberikan kupan 100 dollar AS atas kejadian tersebut. Namun lagi-lagi setelah itu, ada kabar bahwa dengan akan dirilisnya Windows 8 kemungkinan pengguna smartphone berbasis Windows Phone saat ini tidak bisa melakukan upgrade ke versi Windows Phone terbaru.

Situasi-situasi yang tidak berketentuan tersebut tentu saja merupakan pukulan bagi konsumen sehingga membuat mereka memperoleh pengalaman jelek ketika menggunakan Nokia. Dengan misi untuk setidaknya bisa menggantikan RIM BlackBerry di posisi ketiga OS smartphone, saya rasa kejadian-kejadian tersebut di atas setidaknya memengaruhi perjalanan Nokia dan membuat jalan yang akan mereka lalui semakin terjal saja.

Dan tanda-tanda bahwa Nokia akan melalui jalan terjal tersebut semakin terlihat. Berdasarkan laporan kuartal pertama, Nokia mengalami kerugian operasional sekitar 1,7 miliar dollar di kuartal pertama tahun 2012. Uang tunai yang dimilik Nokia terus merosot yang pada kuartal pertama tahun 2012 ini berkurang sebanyak 700 juta dollar AS. Tidak itu saja bila kita lihat dari sisi pasar yang dimasuki oleh Nokia, semua pasar, apakah itu Eropa, Timur Tengah, China, Asia Pasifik, Amerika Utara, dan Amerika Latin, jumlah penjualan Nokia terus menunjukkan penurunan.

Posisi Nokia sebagai raja dalam urusan volume ponsel kini sudah digantikan oleh Samsung. Posisi ini sudah empatbelas tahun tidak pernah lepas dari tangan Nokia, namun kini terpaksa harus berpindah ke Samsung.

Beberapa tanda tersebut bisa dikatakan bahwa Nokia perlu strategi yang lebih baik lagi. Berharap hanya kepada Nokia Lumia yang terjual 2 juta unit lebih dengan biaya pemasaran yang tidak terbatas dari Microsoft sebenarnya jauh dari kata baik. Nokia perlu cara lain untuk bisa setidaknya bersaing dengan RIM BlackBerry yang juga tengah dirundung masalah.

Stephen Elop sebagai CEO mengatakan bahwa apa yang dialami Nokia saat ini merupakan pertanda bahwa Nokia masih dalam masa-masa transisi. Bisa jadi demikian, namun pertanyaannya sampai kapan Nokia mengalami masa transisi? Apakah masa 14 bulan tidak cukup untuk menghasilkan smartphone yang mampu bersaing dan digemari konsumen layaknya dulu ketika mereka masih berjaya?

Tentunya tidak mudah untuk menjawab hal tersebut. Pertama karena kondisi persaingan saat ini sudah sangat kompetitif. Dulu Nokia bisa melahirkan beberapa smartphone dalam setahun dan konsumen berbondong-bondong untuk membeli, kini tidak lagi. Kini sangat banyak pilihan smartphone yang tersedia di pasar. Konsumen makin pintar memperbandingkan smartphone yang sangat cocok dengan mereka.  Apalagi Nokia cukup lama absen merilis smartphone yang mampu bersaing dengan iPhone dan Android.

Kedua kemajuan Android, BlackBerry, dan iPhone  telah membuat Nokia dilupakan konsumen. Bahkan BlackBerry yang sebenarnya kurang maju dibandingkan Android dan iPhone lebih disukai karena Nokia tidak bisa menawarkan hal yang sama.

Ketiga ketika kembali memasuki pasar smartphone, Nokia seperti yang dikeluhkan oleh operator Eropa memberikan harga yang terlalu mahal dengan teknologi yang biasa saja. Coba kita cantumkan sumber Reuters berikut ini:

"An unnamed European mobile phone executive said, “No one comes into the store and asks for a Windows phone. Nokia have given themselves a double challenge: to restore their credibility in terms of making hardware smartphones and succeed with the Microsoft Windows operating system, which lags in the market. If the Lumia with the same hardware came with Android in it and not Windows, it would be much easier to sell."

Keempat, kerja sama Nokia dengan Microsoft mungkin bukan keputusan yang tepat. Kita tahu, Windows Phone tidak memiliki ekosistem sebaik Android dan iPhone terutama pasar aplikasinya. Bagaimanapun pasar aplikasi merupakan hal yang sangat penting saat ini. Seandainya Nokia bekerja sama dengan Google mungkin akan berbeda ceritanya.

Tentunya kerja sama Nokia dengan Microsoft tersebut memiliki alasan tersendiri. Salah satunya Nokia ingin berbeda dengan vendor-vendor lain dengan menjadi vendor utama Windows Phone. Keinginan berbeda ini juga menjadi tema kampanye Nokia Lumia. Namun kita tahu menjadi sekedar berbeda saja tidaklah cukup. Fakta di lapangan menunjukkan, bahwa Samsung yang memilih Android sebagai platform utama memperoleh keberhasilan, meskipun masih banyak vendor Android lainnya yang menawarkan smartphone yang pada dasarnya sama saja.

Tampaknya, nasib Nokia tidak berbeda jauh dengan RIM BlackBerry. Namun Nokia masih beruntung, ada Microsoft yang membantu, sedangkan RIM BlackBerry harus berjuang sendirian. Namun di sisi pasar kondisi RIM BlackBerry masih jauh lebih baik dibandingkan Nokia Lumia yang berbasis Windows Phone.  Kedua perusahaan ini bisa saja suatu waktu tersedia On Sale, meskipun pilihan tersebut bukan opsi yang utama.

Akankah NOKIA Kembali Bangkit Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Bang Jali
 

Top